Doa yang kau panjatkan tetap sama untuk
setiap orang yang berbeda. Apa yang kau minta? Kebersamaan? Bukankah semua
doamu sudah terjawab ? Menghabiskan waktu bersama dia. Berterimakasih kepada
Tuhan karna dia yang kau minta. Dia yang selalu memberi warna untuk setiap
kanvas yang baru, kehidupan yang baru. Lalu apa lagi yang kau minta? Bukankah
kau bahagia dengan itu?
Begitu banyak pertanyaan muncul di
otakku. Aku hanya tak ingin jadi bagian dari dirinya. Aku ingin kanvas yang
baru, aku ingin pallate yang baru, aku ingin kau menggoreskan kuas dengan
warna-warna soft kesukaanmu.
“Woi ca!’’ Aku baru sadar ada orang yang pemperhatikanku sejak tadi.
Dan orang itu berhasil membuat jantungku bergeser dari tempat yang semestinya.
“Apaan sih?! Bisa kali ngomong nggak kayak speaker masjid.”
“Ceilah pagi-pagi udah ngelamun aja, mikirin apaan sih?” Tanyanya
heran.
“Yang pasti nggak mikirin kamu.” Aku langsung pergi karna aku masih
sayang dengan gendang teligaku.
Fadilla. Cewek super bawel yang susah
banget mengatur volume suaranya sendiri. Meskipun dia seperti itu dialah yang
mampu menerjemahkan apa yang sedang mengganggu pikiranku. Mungkin karna kita
sudah kenal setahun lebih dan bisa dibilang sahabat.
Kenapa kata-kata itu masih
berputar-putar di otakku. Apa yang salah dengan doa yang sama? Dan aku belum
menemukan jawabannya.
***
Hari ini begitu melelahkan. Seperti ditampar
tugas dosen sana sini. Dateline tugas juga tak memandang perasaan orang. Kepalaku
mendadak pening dan saat itu juga aku tak ingat apa yang ada disekelilingku.
“Dil...Dilca, bangunlah.”
Kepalaku masih terasa berat. Aku merasa
nyawaku juga belum kembali seutuhnya. Tuhan apa lagi yang terjadi kepadaku.
“Ca, kamu baik-baik aja kan? Apa perlu aku panggil dokter?”
“Nggg...gak apa-apa kok. Kurang tidur aja.”
“Tapi kamu nggak depresi kan?!” Dia menarik bahuku dan memandangku
lekat.
“Bisa nggak kamu nggak gegabah kayak gitu. Bisa-bisa aku stres
gara-gara kamu.”
Dengan wajah merasa bersalah, Dilla
nampak membawa sesuatu. “Ya maaf, aku kan khawatir. Oh ya ini ada surat buat
kamu, kayaknya sih buat kamu. Tadi aku lihat di kotak pos depan rumah.”
From: G
To : Dilca
Surat pita? Ge? Surat dari Ge? Denyut
jantungku mulai tak terarah. Apa yang mau dia sampaikan kepadaku? Apa dia
mengirim doa lagi seperti 2 tahun lalu? Bukankah dia sudah bersama wanita yang
dicintainya?
Aku memulai membukanya dan benar dugaanku. Isi surat ini ucapan doa. Aku mulai memutar otak melihat kata demi
kata yang tak asing saat aku membacanya. Sepertinya ada yang janggal, dan aku
mulai ingat sesuatu. Aku langsung menuju laci dan membuka kotak kesayanganku.
Akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Aneh. Ada yang aneh dengan surat ini.
Amplop, hiasan, dan isi doanya juga sama. Kenapa Ge mengirim surat ini lagi kepadaku?
Apa mungkin dia lupa sudah pernah mengirimkah surat ini? Entahlah mungkin dia
lupa.
“Ca, surat dari siapa?”
Dilla mengagetkanku lamunanku. “Ha? Emm...temanku.”
“Oh iya sudah buruan mandi gih, nanti ke kampusnya bareng aja.” Dilla
mulai beranjak pergi sebelum aku menjawabnya.
Hari ini ketemu sama dosen super galak
dan mood ke kampus belum balik seutuhnya. Exhale.
Aku merasa jam berputar sepuluh kali lebih lambat dari biasanya. “Kenapa sih
kok nggak konsentrasi gini?!” batinku dalam hati.
Akhirnya jam pulang yang aku
tunggu-tunggu datang juga. Dilla sudah menungguku diluar kelas.
“Eh Ca aku mau cerita nih.” Muka Dilla tampak serius dan sepertinya
ada hal yang penting.
“Cerita apa?”
“Kamu masih ingat nggak sama pacarku? Cowok yang kuliah di Prancis
itu.”
Aku mengerlingkan mata. “Hhh...Aku kira kamu mau ngomong hal penting
apa gitu.”
“Beberapa bulan ini dia nggak kasih kabar lagi. Biasanya sih kirim
email, menurutmu gimana?”
“Sibuk kali.” Jawabku seadanya.
“Iya aku tau kalau buat komunikasi gitu pasti mahal. Iya paling nggak
chatting apa gimana gitu. Apa jangan-jangan...”
“Apaan sih Dil, positive thinking aja kenapa sih. Ribet amat, udah
yuk pulang. Capek, mau tidur.” Akupun bergegas pergi.
Surat itu terus datang setiap harinya.
Surat beramplop pita kesukaanku, ternyata Ge masih ingat itu. Kata-kata yang
mendamaikan hati menjadi doa penenang jiwa. Ge aku merindukanmu. Rindu saat
kita ucapankan doa bersama. Kenapa kau masih mengirimiku surat? Bukankah kau
sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri semua. Masih pedulikah dirimu? Aku
merasa ada teka-teki dibalik ini semua. Beritahu aku Ge, aku mohon.
Kriiing...kriiing...kriiing.
“Oh God kesiangan!” Aku langsung bergegas masuk kamar mandi dan
berusaha siap-siap kuliah secepat kilat.
“Ca...ca tunggu! Buru-buru amat sih.”
“Apaan sih?! Telat nih woi.”
“Santai dong, nanti pulang cepat ya. Mau aku ajak ke mall. Ok!”
“Terserah kau sajalah.” Aku tidak terlalu memperdulikan ucapannya dan
langsung tancap gas secepat mungkin.
Tuhan,
permudahkanlah dia dalam keadaan sulit, jika itu dianggapnya sulit. Hindarkanlah
dia dari kejenuhan yang akan selalu datang. Ingatkanlah dia tentang waktu yang
akan berdetak dengan irama yang sama, tetap sama. Amin.
“Thanks Ge, kau berhasil menjadi penyemangatku hari ini.” Mendadak
senyumku mengembang baca kalimat terakhir surat itu dan aku akan mengingatkan
diriku soal waktu, soal jam kuliah yang akan tetap sama.
Ting tong.
Ternyata pintu nggak dikunci sama Dilla. “Dil...Fadilla. Aku pulang
nih.”
Seperti tak ada orang dirumah. Hening.
Aku pun memutuskan untuk ke kamar. Kuliah hari ini memang berhasil membuat
tulang punggungku remuk. Sebelum aku membuka kamar, langkahku terhenti. Ada
sesuatu yang membuatku penasaran. Sepertinya aku telah menemukan jawaban
tentang pertanyaan yang beberapa hari ini memenuhi otakku.
***
FADILLA.
Bel rumah berbunyi, “Nggak biasanya jam segini ada tamu.” Batinku.
“Surprise!” Senyumnya yang manis mengembang.Mataku terbelak ketika mendapati teryata yang sekarang dihadapanku
adalah Gio. Sungguh ini benar-benar kejutan.
“GIO! Ini beneran kamu.” Aku masih tak percaya.
“Iya ini aku, ada urusan di Indo. Sekalian deh mampir.”
“Kapan balik dari Prancis? Tapi kok kamu bisa tahu alamatku?”
“Jadi ini ceritanya nggak disuruh masuk dulu?”
“Oh iya, aku sampai lupa. Masuk masuk.”
Gio masih sama seperti pertama kali aku
melihatnya. Kacamata yang penambah ketampanannya dan membuatku makin terkesima.
“Mau minum apa sayang?”
“Apa aja deh. Kamu sendirian disini?”
“Nggak kok aku berdua sama temanku, kayaknya dia masih dikampus. Nih
minumnya.” Ice mocca kesukaan Ge, dan aku masih ingat itu.
“Makasih sayang, kau masih ingat saja. Oh ya nih ada sesuatu buat
kamu.” Ge menberikan benda yang tak asing bagiku. Amplop berpita?
“Ini untuk aku?”
“Iya sayang, bukannya kamu menerima setiap harinya.” Aku masih tak bisa berkata apapun.
“Kenapa kau tak menulis penerimanya?” Nadaku meninggi.
“Aku sudah menulisnya. Coba dibuka dulu amplopnya.”
Hening.
***
Aku telah menemukan jawaban soal surat
dalam doamu, Ge. Ternyata surat-surat itu bukan untukku tapi Dilla, Fadilla. Aku tak mempercayai ini, sungguh aku tak percaya telingaku
lagi dengan apa yang aku dengar, sungguh aku tak percaya mataku lagi dengan apa
yang aku lihat. Sekarang aku mengerti tentang doa yang sama untuk orang yang
berbeda dan waktu yang sama Ge, ini jawabnya. Kau mengirim surat yang sama,
kata-kata yang sama, dan doa yang sama pada setiap orang yang kau sayangi. Aku
mengerti sekarang. Tapi apakah aku termasuk dari bagian dari itu? Air mataku
mulai menetes.
”Ingatkanlah dia
tentang waktu yang akan berdetak dengan irama yang sama, tetap sama. Amin.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar