Rabu, 18 Juni 2014

Doa Tersurat


Doa yang kau panjatkan tetap sama untuk setiap orang yang berbeda. Apa yang kau minta? Kebersamaan? Bukankah semua doamu sudah terjawab ? Menghabiskan waktu bersama dia. Berterimakasih kepada Tuhan karna dia yang kau minta. Dia yang selalu memberi warna untuk setiap kanvas yang baru, kehidupan yang baru. Lalu apa lagi yang kau minta? Bukankah kau bahagia dengan itu?

Begitu banyak pertanyaan muncul di otakku. Aku hanya tak ingin jadi bagian dari dirinya. Aku ingin kanvas yang baru, aku ingin pallate yang baru, aku ingin kau menggoreskan kuas dengan warna-warna soft kesukaanmu.

“Woi ca!’’ Aku baru sadar ada orang yang pemperhatikanku sejak tadi. Dan orang itu berhasil membuat jantungku bergeser dari tempat yang semestinya.

“Apaan sih?! Bisa kali ngomong nggak kayak speaker masjid.”

“Ceilah pagi-pagi udah ngelamun aja, mikirin apaan sih?” Tanyanya heran.

“Yang pasti nggak mikirin kamu.” Aku langsung pergi karna aku masih sayang dengan gendang teligaku.

Fadilla. Cewek super bawel yang susah banget mengatur volume suaranya sendiri. Meskipun dia seperti itu dialah yang mampu menerjemahkan apa yang sedang mengganggu pikiranku. Mungkin karna kita sudah kenal setahun lebih dan bisa dibilang sahabat.

Kenapa kata-kata itu masih berputar-putar di otakku. Apa yang salah dengan doa yang sama? Dan aku belum menemukan jawabannya.

***
Hari ini begitu melelahkan. Seperti ditampar tugas dosen sana sini. Dateline tugas juga tak memandang perasaan orang. Kepalaku mendadak pening dan saat itu juga aku tak ingat apa yang ada disekelilingku.

“Dil...Dilca, bangunlah.”

Kepalaku masih terasa berat. Aku merasa nyawaku juga belum kembali seutuhnya. Tuhan apa lagi yang terjadi kepadaku.

“Ca, kamu baik-baik aja kan? Apa perlu aku panggil dokter?”

“Nggg...gak apa-apa kok. Kurang tidur aja.”

“Tapi kamu nggak depresi kan?!” Dia menarik bahuku dan memandangku lekat.

“Bisa nggak kamu nggak gegabah kayak gitu. Bisa-bisa aku stres gara-gara kamu.”

Dengan wajah merasa bersalah, Dilla nampak membawa sesuatu. “Ya maaf, aku kan khawatir. Oh ya ini ada surat buat kamu, kayaknya sih buat kamu. Tadi aku lihat di kotak pos depan rumah.”

From: G
To  : Dilca

Surat pita? Ge? Surat dari Ge? Denyut jantungku mulai tak terarah. Apa yang mau dia sampaikan kepadaku? Apa dia mengirim doa lagi seperti 2 tahun lalu? Bukankah dia sudah bersama wanita yang dicintainya?

Aku memulai membukanya dan benar dugaanku. Isi surat ini ucapan doa. Aku mulai memutar otak melihat kata demi kata yang tak asing saat aku membacanya. Sepertinya ada yang janggal, dan aku mulai ingat sesuatu. Aku langsung menuju laci dan membuka kotak kesayanganku. Akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Aneh. Ada yang aneh dengan surat ini. Amplop, hiasan, dan isi doanya juga sama. Kenapa Ge mengirim surat ini lagi kepadaku? Apa mungkin dia lupa sudah pernah mengirimkah surat ini? Entahlah mungkin dia lupa.

“Ca, surat dari siapa?”

Dilla mengagetkanku lamunanku. “Ha? Emm...temanku.”

“Oh iya sudah buruan mandi gih, nanti ke kampusnya bareng aja.” Dilla mulai beranjak pergi sebelum aku menjawabnya.

Hari ini ketemu sama dosen super galak dan mood ke kampus belum balik seutuhnya. Exhale. Aku merasa jam berputar sepuluh kali lebih lambat dari biasanya. “Kenapa sih kok nggak konsentrasi gini?!” batinku dalam hati.

Akhirnya jam pulang yang aku tunggu-tunggu datang juga. Dilla sudah menungguku diluar kelas.

“Eh Ca aku mau cerita nih.” Muka Dilla tampak serius dan sepertinya ada hal yang penting.

“Cerita apa?”

“Kamu masih ingat nggak sama pacarku? Cowok yang kuliah di Prancis itu.”

Aku mengerlingkan mata. “Hhh...Aku kira kamu mau ngomong hal penting apa gitu.”

“Beberapa bulan ini dia nggak kasih kabar lagi. Biasanya sih kirim email, menurutmu gimana?”

“Sibuk kali.” Jawabku seadanya.

“Iya aku tau kalau buat komunikasi gitu pasti mahal. Iya paling nggak chatting apa gimana gitu. Apa jangan-jangan...”

“Apaan sih Dil, positive thinking aja kenapa sih. Ribet amat, udah yuk pulang. Capek, mau tidur.” Akupun bergegas pergi.

Surat itu terus datang setiap harinya. Surat beramplop pita kesukaanku, ternyata  Ge masih ingat itu. Kata-kata yang mendamaikan hati menjadi doa penenang jiwa. Ge aku merindukanmu. Rindu saat kita ucapankan doa bersama. Kenapa kau masih mengirimiku surat? Bukankah kau sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri semua. Masih pedulikah dirimu? Aku merasa ada teka-teki dibalik ini semua. Beritahu aku Ge, aku mohon.

Kriiing...kriiing...kriiing.

“Oh God kesiangan!” Aku langsung bergegas masuk kamar mandi dan berusaha siap-siap kuliah secepat kilat.

“Ca...ca tunggu! Buru-buru amat sih.”

“Apaan sih?! Telat nih woi.”

“Santai dong, nanti pulang cepat ya. Mau aku ajak ke mall. Ok!”

“Terserah kau sajalah.” Aku tidak terlalu memperdulikan ucapannya dan langsung tancap gas secepat mungkin.

Tuhan, permudahkanlah dia dalam keadaan sulit, jika itu dianggapnya sulit. Hindarkanlah dia dari kejenuhan yang akan selalu datang. Ingatkanlah dia tentang waktu yang akan berdetak dengan irama yang sama, tetap sama. Amin.

“Thanks Ge, kau berhasil menjadi penyemangatku hari ini.” Mendadak senyumku mengembang baca kalimat terakhir surat itu dan aku akan mengingatkan diriku soal waktu, soal jam kuliah yang akan tetap sama.

Ting tong.

Ternyata pintu nggak dikunci sama Dilla. “Dil...Fadilla. Aku pulang nih.”

Seperti tak ada orang dirumah. Hening. Aku pun memutuskan untuk ke kamar. Kuliah hari ini memang berhasil membuat tulang punggungku remuk. Sebelum aku membuka kamar, langkahku terhenti. Ada sesuatu yang membuatku penasaran. Sepertinya aku telah menemukan jawaban tentang pertanyaan yang beberapa hari ini memenuhi otakku.

***

FADILLA.

Bel rumah berbunyi, “Nggak biasanya jam segini ada tamu.” Batinku.

“Surprise!” Senyumnya yang manis mengembang.Mataku terbelak ketika mendapati teryata yang sekarang dihadapanku adalah Gio. Sungguh ini benar-benar kejutan.

“GIO! Ini beneran kamu.” Aku masih tak percaya.

“Iya ini aku, ada urusan di Indo. Sekalian deh mampir.”

“Kapan balik dari Prancis? Tapi kok kamu bisa tahu alamatku?”

“Jadi ini ceritanya nggak disuruh masuk dulu?”

“Oh iya, aku sampai lupa. Masuk masuk.”

Gio masih sama seperti pertama kali aku melihatnya. Kacamata yang penambah ketampanannya dan membuatku makin terkesima.

“Mau minum apa sayang?”

“Apa aja deh. Kamu sendirian disini?”

“Nggak kok aku berdua sama temanku, kayaknya dia masih dikampus. Nih minumnya.” Ice mocca kesukaan Ge, dan aku masih ingat itu.

“Makasih sayang, kau masih ingat saja. Oh ya nih ada sesuatu buat kamu.” Ge menberikan benda yang tak asing bagiku. Amplop berpita?

“Ini untuk aku?”

“Iya sayang, bukannya kamu menerima setiap harinya.” Aku masih tak bisa berkata apapun.

“Kenapa kau tak menulis penerimanya?” Nadaku meninggi.

“Aku sudah menulisnya. Coba dibuka dulu amplopnya.”

Hening.



***

Aku telah menemukan jawaban soal surat dalam doamu, Ge. Ternyata surat-surat itu bukan untukku tapi Dilla, Fadilla. Aku tak mempercayai ini, sungguh aku tak percaya telingaku lagi dengan apa yang aku dengar, sungguh aku tak percaya mataku lagi dengan apa yang aku lihat. Sekarang aku mengerti tentang doa yang sama untuk orang yang berbeda dan waktu yang sama Ge, ini jawabnya. Kau mengirim surat yang sama, kata-kata yang sama, dan doa yang sama pada setiap orang yang kau sayangi. Aku mengerti sekarang. Tapi apakah aku termasuk dari bagian dari itu? Air mataku mulai menetes.


”Ingatkanlah dia tentang waktu yang akan berdetak dengan irama yang sama, tetap sama. Amin.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar